Home Daerah Sindikat Penebangan Liar Hutan Negara Buleleng Diringkus

Sindikat Penebangan Liar Hutan Negara Buleleng Diringkus

23
0
SHARE
Sindikat Penebangan Liar Hutan Negara Buleleng Diringkus

Keterangan Gambar : Sindikat penebangan liar di Buleleng

Detikone.com - Polres Buleleng menangkap tujuh tersangka sindikat illegal logging di wilayah hutan negara, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Para komplotan tersebut adalah Sudiono (48) sebagai sopir truk, Yenri Andi (37) alias bos Andi sebagai pembeli kayu, Masenan (36) sebagai penebang kayu, Putu Karmita (35) alias Leong dan Wayan Darmadi (52) sebagai penjual kayu, Ida Bagus Komang Swardika (35) bertugas memasarkan kayu hutan dan yang menerima transferan uang dari pembeli dan Kadek Wijaya (43) alias Dek Mut bertugas memasarkan kayu hutan.

"Kayunya di bawa ke Jawa Malang (Jawa Timur) dan pembelinya yang dari Jawa," kata Kasubag Humas Polres Buleleng Humas Iptu Sumarjaya saat dihubungi, Selasa (17/9).

Komplotan tersebut ditangkap hari Jumat (13/9) sekitar pukul 19.00 WITA, di wilayah hutan negara.

Awalnya polisi mendapatkan informasi dari masyarakat terkait maraknya penebangan liar di wilayah hutan negara. Kemudian polisi melakukan penyelidikan.

Polisi menemukan buruh sedang mengangkut kayu ke truk. Ketika diminta dokumen kepemilikan kayu yang diangkut tersebut, sopir truk tidak bisa menunjukkan.

Kemudian para pelaku dan barang bukti berupa satu truk, satu mesin sensor kayu dan 27 batang kayu gelondongan jenis sonokeling diamankan polisi.

"Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap para tersangka, didapat keterangan bahwa kayu yang diangkut tersebut memang ditebang dari kawasan Hutan Negara Banjar Dinas Sorga, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng," jelas Sumarjaya.

Para tersangka dikenakan Pasal 83 ayat (1) yo Pasal 12 huruf e, Undangan-Undang nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Kerusakan Hutan, dengan pidana paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun penjara serta pidana denda paling sedikit Rp500.000.000 dan paling tinggi Rp2.500.000.000.  

Sumb: Merdeka