Home Politik \'Politik Harus Bebas Dari Isu SARA, Arahkan ke Toleransi Terima Perbedaan\'

\'Politik Harus Bebas Dari Isu SARA, Arahkan ke Toleransi Terima Perbedaan\'

11
0
SHARE
\

Keterangan Gambar : Politik, ilustrasi

Detikone.com - Suku, agama, ras dan antar golongan jika ditarik ke ranah politik ditakutkan akan menimbulkan perpecahan. Seharusnya perbedaan dikelola untuk menguatkan persatuan.

"Politik harus terbebas dari isu SARA. Harus diarahkan ke toleransi yang dapat menerima budaya yang berbeda-beda, sehingga terciptalah apa yang dinamakan multi kulturalisme," ujar Guru Besar Psikologi Politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk dalam keterangannya, Jumat (8/11).

Dia mencontohkan di masa lalu Mohammad Natsir aspirasi politiknya adalah Masyumi Partai Islam, tetapi kemudian dia bisa bersahabat dengan orang-orang dari partai Katolik.

"Enggak ada itu sedikit-sedikit mengkafir-kafirkan. Karena ketika seseorang sudah menjadi tokoh bangsa memang dia tidak lagi jadi wakil satu golongan tetapi dia sudah wakil dari semuanya," tuturnya.

Semangat Indonesia Gotong Royong Semua Golongan

Untuk itu, Hamdi mengingatkan agar masyarakat jangan sampai terkungkung dengan kebanggaan identitas kesukuan semata, tetapi harus bangga akan nasionalismenya. Menurutnya, masyarakat harus diingatkan lagi dengan sejarah pembentukan republik ini, bahwa kemerdekaan kita adalah gotong royong semua agama dan suku bahu-membahu, nggak ada yang lebih tinggi dari yang lain.

Untuk itu Kepala Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia ini pun berharap kepada para generasi muda bangsa agar dapat menjadi pahlawan perdamaian yang baru. Karena dengan semakin berkembangnya teknologi jangan sampai generasi muda ini melupakan sejarah bangsanya.

"Hayati bahwa Indonesia ini atas dasar semangat gotong royong semua agama, semua golongan," tandasnya.

Sumb: Merdeka