Home Internasional Netanyahu Ingin Bentuk Pemerintahan Bersatu

Netanyahu Ingin Bentuk Pemerintahan Bersatu

23
0
SHARE
Netanyahu Ingin Bentuk Pemerintahan Bersatu

Keterangan Gambar : Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Detikone.com, TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan pemimpin Blue and White Party (Kahol Lavan) Benny Gantz untuk membentuk pemerintahan bersatu, Kamis (19/9). Hal itu dia lakukan setelah partainya, Likud Party, gagal meraih kursi mayoritas di parlemen dalam pemilu Israel. 

Netanyahu telah mengundang Gantz untuk bertemu dengannya. "Benny, kita yang harus membentuk pemerintahan yang luas. Hari ini, bangsa mengharapkan kita, kita berdua, untuk menunjukkan tanggung jawab serta bertindak dalam kerja sama," ujarnya, dikutip laman Anadolu Agency. 

Netanyahu mengakui bahwa dia menjanjikan pemerintahan sayap kanan selama masa kampanye pemilu. "Tapi hasil pemilu menunjukkan ini tidak mungkin. Publik tidak memilih antara dua blok," ucapnya. 

Gantz belum merespons seruan Netanyahu. Namun, Presiden Israel Reuven Rivlin mengapresiasi langkah yang diambil Netanyahu. "Saya mengucapkan selamat kepada Anda Perdana Menteri (Netanyahu) atas bergabungnya Anda dalam seruan ini. Ini adalah seruan penting," kata Rivlin. 

Hasil pemilu Israel dijadwalkan diumumkan komisi terkait pada Kamis sore waktu setempat. Sebanyak 90 persen suara telah dihitung. Hasilnya, Blue and White Party diprediksi memenangkan 32 kursi di parlemen Israel (Knesset). Sementara Likud Party diperkirakan memperoleh 31 kursi.

Koalisi partai Arab (Israeli Arabs) memperoleh 13 kursi. Partai sayap kanan Yisrael Beiteinu yang dipimpin mantan menteri pertahanan Israel Avigdor Lieberman mendapatkan sembilan kursi.  Sementara partai lainnya, Shas Party (tujuh kursi), United Torah Judaism (sembilan kursi), Yamina Party (delapan kursi), Democratic Union (enam kursi), dan Labor-Gesher (lima kursi). 

Untuk membentuk kabinet atau pemerintahan, sebuah partai di Israel minimal harus memilki 61 kursi di Knesset. Jika pemerintahan gagal dibentuk, Israel harus menggelar pemilu ulang ketiga. 

Pada April lalu, Israel telah menggelar pemilu. Likud Party keluar sebagai pemenang. Hasil itu menjamin Netanyahu untuk meneruskan jabatannya sebagai perdana menteri. 

Namun Netanyahu gagal membentuk kabinet sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditentukan. Karena khawatir jabatan perdana menteri diambil oposisi, dia memutuskan parlemen. 

Konsekuensi keputusan itu adalah Israel harus menghelat pemilu ulang. Pemilu kedua digelar pada Rabu (18/9) lalu. 

Sumb: Republika