Home Internasional Ini Alasan Sesungguhnya Donald Trump Perintahkan Pembunuhan Qassim Sulaimani

Ini Alasan Sesungguhnya Donald Trump Perintahkan Pembunuhan Qassim Sulaimani

22
0
SHARE
Ini Alasan Sesungguhnya Donald Trump Perintahkan Pembunuhan Qassim Sulaimani

Keterangan Gambar : Qassem Soleimani

Detikone.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Senin membela diri atas keputusannya memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassim Sulaimani. Menurutnya apa yang dilakukan itu benar karena tindakan mengerikan Iran di masa lalu.

Trump mengklaim adanya "ancaman segera" terhadap empat kedutaan besar AS yang tidak ditentukan adalah bagian dari alasannya meluncurkan serangan pesawat tak berawak yang menewaskan Sulaimani. Pada Minggu, Menteri Pertahanan AS, Mark Esper mengatakan dia tidak tahu bukti kuat tentang rencana serangan.

Trump menyampaikan hal tersebut untuk menanggapi kecaman bahwa dia ceroboh dalam memerintahkan pembunuhan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran tersebut. Trump kembali menegaskan bahwa akan ada ancaman yang akan segera terjadi.

"Media Berita Palsu dan mitra Demokrat mereka bekerja keras untuk menentukan apakah serangan di masa depan oleh teroris Sulaimani sudah dekat tidak, dan apakah tim saya setuju. Jawaban untuk keduanya adalah sangat BENAR," kicaunya dilansir dari Times of Israel, Selasa (14/1).

Namun, ia menambahkan, "itu tidak terlalu penting karena masa lalunya yang mengerikan!"

Trump juga menggambarkan lawannya, Demokrat sebagai antek Iran dan meretweet meme dua pimpinan tertinggi Demokrat menggunakan pakaian muslim berlatar belakang bendera Iran.

Trump juga mengejek pimpinan Senat dari Demokrat, Chuck Summer dan Ketua DPR Nancy Pelosi karena dikritik terkait perintahnya membunuh Sulaimani.

Pekan lalu, dalam kampanye Pilpres, Trump mengatakan Pelosi dan anggota Demokrat lainnya tak dapat dipercaya soal informasi rahasia terkait pembunuhan Sulaimani. Pembunuhan Sulaimani di Bandara Internasional Baghdad, Irak pada 3 Januari lalu memicu kekhawatiran akan berujung perang di wilayah tersebut, kendati terjadi penurunan ekskalasi dalam beberapa hari terakhir.

Trump bersikeras Sulaimani harus dibunuh untuk mencegah ancaman serangan terhadap empat kedutaan besar AS. Sebagai Panglima Pasukan Al Quds Garda Revolusi, Sulaimani bertanggung jawab terhadap operasi Iran di Timur Tengah dan seluruh dunia.

Dalam cuitannya pada Senin, Trump mengklaim Demokrat dan apa yang ia sebut media "Berita Palsu" tengah "berusaha menjadikan teroris Sulaimani menjadi pria hebat, hanya karena saya melakukan apa yang seharusnya dilakukan selama 20 tahun."

Trump Izinkan Pembunuhan Sulaimani Sejak Juni 2019

NBC News melaporkan pada Senin bahwa Trump telah mengizinkan pembunuhan Sulaimani sejak tujuh bulan lalu atau sekitar Juni 2019, namun kemudian dikondisikan setelah serangan terbaru Iran yang menyebabkan sejumlah orang Amerika terbunuh.

Mengutip lima pejabat dan mantan pejabat pemerintahan Trump, laporan tersebut menyebutkan Trump mempertahankan haknya atas keputusan akhir pembunuhan Sulaimani.

"Ada sejumlah opsi yang diberikan kepada presiden waktu itu," kata seorang pejabat senior pemerintah, yang salah satunya membunuh Sulaimani.

Arahan itu, dikeluarkan pada Juni, adalah opsi langsung saat AS mencari cara untuk menanggapi serangan Iran di Irak yang menewaskan seorang kontraktor AS dan melukai empat anggota pasukan AS, kata sumber tersebut.

Para pejabat mengungkapkan bahwa setelah Iran menembakkan drone pada bulan Juni, maka penasihat keamanan nasional John Bolton mendesak Trump untuk menyetujui pembunuhan Sulaimani. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga mendukung pembunuhan jenderal Iran.

Namun pada saat itu Trump menolak usulan tersebut, kata laporan NBC, bersikeras bahwa ia hanya akan membunuh Sulaimani jika seorang warga Amerika terbunuh.

Pejabat lain mengatakan, ketika Trump pertama kali berkuasa, Pompeo, yang saat itu menjadi direktur CIA, menekan presiden untuk lebih agresif terhadap Sulaimani.

Usulan membunuh Sulaimani juga dibahas para pejabat keamanan pemerintahan pada 2017 tetapi "bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai langkah pertama," dalam kebijakan Washington menekan Iran untuk menegosiasikan kembali kesepakatan nuklir 2015, kata seorang mantan pejabat.

Gedung Putih dan Dewan Keamanan Nasional tak menanggapi permintaan konfirmasi. John Bolton dan Departemen Pertahanan juga menolak berkomentar.

Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat sejak Washington pada 2018 menarik diri dari Rencana Aksi Gabungan 2015, sebuah kesepakatan agar Iran mengurangi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Pemerintahan Trump mengatakan kesepakatan itu tidak cukup untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan tidak membahas program pengembangan misilnya. Setelah menarik diri dari kesepakatan itu, Washington memberikan sanksi tegas pada Iran, terutama menargetkan industri minyaknya, yang menghancurkan ekonomi Iran.

Sumb: Merdeka