Home Olahraga Membangkang, Tim Medis Lazio Ogah Karantina 14 Hari

Membangkang, Tim Medis Lazio Ogah Karantina 14 Hari

41
0
SHARE
Membangkang, Tim Medis Lazio Ogah Karantina 14 Hari

Keterangan Gambar : Selebrasi para Pemain Lazio.

Detikone.com, ROMA -- Keputusan Komite Ilmiah Italia (CTS) untuk tidak memangkas masa karantina menjadi tujuh hari apabila ada satu kasus positif Covid-19 yang ditemukan dalam sebuah klub memicu kontroversi. Selain dianggap bakal mengancam rencana kelanjutan Serie A musim ini, keputusan ini juga dianggap merugikan klub dan pemain.

Pada pekan lalu, sebagian besar klub kontestan Serie A telah memulai latihan secara terbatas. Namun, apabila ditemukan kasus positic Covid-19, maka CTS akan mewajibkan seluruh pemain dan staff pelatih melakukan isolasi dan pemusatan latihan secara terpisah selama 14 hari. Kondisi ini berbeda dibanding di negara lain, yang telah mengurangi masa isolasi selama tujuh hari menyusul telah menurunya kurva epidemi Covid-19.

Keputusan CTS ini pun mendapatkan kritik keras dari berbagai pihak, tidak terkecuali dari pihak klub. Salah satunya datang dari Kepala tim medis Lazio, Ivo Pulcini. Menurut Pulcini, CTS tidak mempertimbangan kurva epidemi Covid-19 di Italia, yang kini telah menunjukan penurunan.

Tidak hanya itu, menerapkan isolasi terhadap orang yang sehat, kata Pulcini, merupakan pelanggaran terhadap kode etik kedokteran. ''Atlet memiliki hak dan perlindungan hukum yang sama dengan jenis pekerjaan lain. Menempatkan 50 orang yang sehat dalam karantina, hanya karena satu orang positif, merupakan pelanggaran kode etik,'' kata Pulcini seperti dikutip Football Italia, Kamis (28/5).

Untuk itu, Pulcini menegaskan, apabila nantinya ada temuan satu kasus positif di Lazio, maka dia tidak akan melakukan karantina selama 14 hari terhadap seluruh pemain dan staff klub. Isolasi tersebut hanya akan dilakukan terhadap orang yang telah dinyatakan positif Covid-19, tanpa harus melakukan karantina terhadap seluruh pemain dan staff klub.

''Orang yang sehat harus dinyatakan sehat dan tidak otomatis dinyatakan sakit. Jika saya melakukan hal itu, maka saya akan melanggar kode etik profesi kedokteran. Saya tidak akan mengarantina orang yang sepenuhnya sehat. Jika mereka memaksa saya melakukan hal itu dan meminta bertanggung jawab, maka saya tidak akan mendukung permintaan tersebut,'' tutur Pulcini. Sumb: Rep